Karya: Renaldy Kevin Sidharta
Flashback Moment
                Bangun dari tidur serasa turun dari surga. Dan kemudian hantam keras. Dihantam sesuatu yang menyakitkan, hingga ku membuka mataku. Kulihat sekitarku dan kuusap-usap kedua mataku secara perlahan-lahan. Kumelihat dunia yang kutinggali dengan sejuta kebahagiaan dan sejuta rasasakit.
                Aku merasakan kehilangan sesuatu,sesuatu yang dulu kupegang erat dan kini lepas. Sesuatu yang hilang dari beberapa tahun lalu. Hingga kumengingatnya. Seorang gadis yang berparas cantik,wajah oriental, dibungkus kulit putih mulus dan dilengkapi oleh pipi tembemnya sehingga ia terlihat lucu dan manis bila dipandang. Kumelihatnya pertama kali ketika ia berlatih dance. Sungguh membuat hati para lelaki luluh akan wajahnya. Sungguh energik dia saat berlatih. Benar-benar dambaan hati.
                Senyumnya bagaikan hembusan angin dari surga, sangat begitu dingin dan menyejukkan hati. Kulihat dia selalu tersenyum dan membuat orang sekitar kembali senang dan melupakan kesedihan yang terbawa. Mungkin karena itulah aku menyukainya dan mulai memerhatikannya. Memerhatikan segala kesukaannya disetiap hari supaya nantinya aku bisa membuatnya terpukau sedikit denganku.
                Seketika ada sebuah teriakan “Vin.. Bangun, sudah siang ini lo!” suara itu langsung membuyarkan lamunanku yang sudah kumulai sejak dari membuka mata tadi. Sambil mengusap-usap mata yang masih ingin mengantupkan kelopaknya dan berjalan menuju ruang makan dengan segera. “Ayam sama nasi.. Wah ini makanan kesukaanku” gumamku dalam hati. Makanan tersebut kulahap habis karena makanan kesukaanku. Setelah makan kulihat jam dinding “Wah.. gila dah jam segini, bisa telat nih” bergegas aku menuju kamar mandi dan cepat- cepat mengguyur badanku dengan air. Kurang lebih 15 menit aku mandi dan segera kekamar tuk berbapakian dengan rapi. Siaplah diriku tuk menuju rumah masa depanku.
                Dalam perjalanan kesekolah, kumengingat sesuatu. Kuingat saat aku dipertemukan dengan dia yang dibantu oleh temanku yang sekaligus teman si gadis itu. Aku mengira temanku sedang bercanda. Karena dalam benakku tak mungkin gadis secantik itu memiliki rasa kepada diriku yang sangat biasa dan tak sepopuler dia. Tetapi temanku tetap saja meyakinkanku supaya percaya bahwa gadis cantik itu mempunyai perasaan kepadaku.
                Namanya sedang terbuai oleh “C-I-N-T-A”. Aku melakukan apapun yang disarankan kepadaku oleh temanku. Pertama-tama temanku memberi saran agar ‘chatting’ terlebih dahulu dengan gadis itu. Sedikit canggung dan malu, aku menyapa dahulu dalam ‘chat’. Beberapa detik kemudian, ia membalasnya. “Wah asyik banget orangnya” gumamku. Gadis cantik ini mendapat nilai lebih dariku. Mengapa demikian? Karena dia sudah cantik, baik dan ditambah dengan respon yang sangat mengasyikkan. Akhirnya ‘chatting’ berlangsung terus-menerus tanpa ada bosannya, meskipun ada beberapa percakapannya yang membuat suasana menjadi ‘garing’ dan kurang menariktuk dibalas.
                Namun, aku berusaha tetap membalas dan berkomunikasi dengannya. Chating ini berlangsung selama 3 tiga hari non-stop. Kejadian itu aku alami saat liburan semester II. Jadi, bebas tuk tidur malam bahkan tidur pagi. Tapi berhubung dia anak cewe yang rentan sakit dan sangat disayang oleh orangtuanya. Aku tak tega melanjutkan chat yang membuat ia tidur malam dan akhirnya jatuh sakit. Aku mengakhiri chat pada malam itu dan kulanjut pada besok hari.
                Hari begitu cepat berlalu. Temanku mendesakku supaya segera meresmikan gadis tersebut menjadi milikku. Namun, aku menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan. Saat itu, waktu liburan sudah habis. Pikirku mungkin ini waktu yang tepat. Aku mengajaknya jalan dan kemudian menonton film dibioskop. Dan sebelum berangkat, temanku menyuruhku agar memakai baju putih supaya serasi dengan dirinya. Sesampai tempat tujuan yang telah disepakati tuk bertemu. Kumencari dia,memutari tiap lantai dan akhirnya bertemu dengan dia bersama keluarganya. Seketika aku terkejut, tak pernah aku jalan dengan cewek dan keluarganya. Mungkin ini pertamakalinya. Keluarganya mengajakku makan bersama dahulu, baru kemudian nonton. Pertama aku menolaknya karena sudah makan dirumah sebelum berangkat. “Jangan menolak berkat” kata sang gadis yang membuat diriku tak enak tuk menolak ajakan makan tersebut. Akhirnya aku makan bersama, cerita-cerita meskipun dengan suasana canggung. Setelah makan,dilanjut dengan nonton bioskop bersama sang gadis. Disaat film mulai,aku menyatakan dan meresmikan dirinya dan ia tak menolak. Senang tak terkira dengan jawabannya. Kamipun jadian dan melewati waktu bersama.

                Tak sadar aku sudah sampai sekolah. Aku berjalan memasuki lorong-lorong dan dihadapkan pada pintu kelas yang membosankan. Ku melangkah masuk sambil berkata dalam hati “Tak apalah, kisah itu memang indah meskipun akhirnya kandas ditengah jalan”. Kujalani hari seperti biasa dan mengerjakan tugas-tugas tepat pada waktunya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top