Karya: Renaldy Kevin Sidharta
Matahari
begitu terik dan langit begitu cerah. Aktivitas berjalan seperti biasa dan
tidak ada yang aneh begitu pula dengan diriku. Aku tetap melakukan aktivitas
yang membosankan disekolah dan pulang tanpa tujuan. Sebelumnya kuperkenalkan
diriku. Namaku Raditya Saputra biasa dipanggil didit, aku masih duduk di bangku
SMA dan bersekolah di SMAN 1 Surabaya kelas 3 IPA II. Aku dianggap paling pinter dikelas, tapi
nyatanya aku ga sepinter anak-anak lain dikelasku. Kenapa begitu? Aku cuman
pulang pergi ke sekolah dan nyetak skor saja tanpa melakukan aktivitas
non-akademik seperti teman-teman aku. Yah.. aku kan memang terkenal paling
males juga sih.
Hari ini aku datang kesekolah agak telat. Aku mulai bosan
masuk sekolah tanpa tujuan dan tanpa warna yang berarti. Sebelum masuk SMA aku
diberitau oleh banyak orang, ‘jangan
pernah sia-sia in masa SMA karena masa ini adalah masa yang paling indah’ tapi
buktinya apa? Aku tetap ngerasain kesendirian dan ngerasain seperti hidup itu
tak berarti lagi. Walaupun begitu aku tetap punya teman yang membuat diriku
terhibur. Namanya Pamungkas Adijaya, dipanggil Pangkas. Entah kenapa namanya
seperti itu, mungkin orangtuanya lagi ngidam suatu perusahaan makanya namanya
seperti nama suatu perusahaan.
“what’s up bro?!” ,sapa Pangkas yang selalu sok kece. “Yah elu lagi
Kas”,dengan nada aku yang rada males ngeliatnya. “Iyalah bro aku tetap setia menemani elu kemana pun elu berada” , jawaban
yang kadang membuat aku ingin muntah. “apaan sih lo tuh?” jawab sinis aku. “lah
bro aku ingin nunjukin elu cewe bro,
elu kan selalu beranggapan dunia membosankan makanya aku ingin kenalin ke lu
cewe kelas 1 yang imut abiezz” dengan nada berapi-apinya yang mengalahkan dewa
zeus marah. “alay lu bos” jawab aku.
Aku langsung digeret sama Pangkas rambut ini
kekantin yang biasanya si cewe itu berada. Pangkas langsung nunjuk dengan
jarinya secara spontan didepan mata si cewe itu. “bro itu lho cwenya yang aku bilang imut dan cocok buat elu” ,
dengan sedikit gelagapan aku berusaha kabur gara-gara malu. Aku ga pernah deket
sekalipun dengan cewe, dan saat aku ditunjukin cewe yang matanya ngeliatin aku.
Aku langsung kabur, dan yang paling buat aku kaget yaitu disaat si Pang membawa
cewe itu di tempat biasanya aku nenangin diri karena malu.”sialan lo Pang”
dalam hati aku bermumam .
Emang sih cewe ini imut bener
dan cantiknya ga nanggung-nanggung. Setelah berkenalan nama cewe itu Dewi.
Seperti namanya, mukanya cantik kayak dewi-dewi dari kayangan. Perkenalan itu
merupakan awal dari diriku untuk merasakan yang namanya ‘jatuh cinta’. Selain
dari parasnya yang cantik. Dewi juga mempunyai sifat yang sangat aku sukai dan
aku idam-idamkan. Manja dan perhatiannya luar biasa. Tak heran aku juga mulai
nyaman saat dia berada didekatku. Tiba saatnya aku tuk merasakan kemanjaannya
lebih lagi melalui menjalin suatu hubungan yang sangat akrab yaitu dengan
berpacaran.
Aku mengajaknya ke
Surabaya Carnival Night Market, dan bermain beberapa wahana yang membuat dirinya
gembira dan senyumnya semakin cantik menghiasi wajahnya. Aku membelikannya
boneka dan berkata kepadanya “dunia memang hitam kelabu sebelum aku mengenalmu,
dan dunia berubah menjadi penuh warna saat kau datang. Dewi, maukah kamu
menjadi temanku?”. Dengan sedikit bingung Dewi bertanya “kan memang sekarang
kita sudah berteman?”, lanjutku “teman untuk menemani hidup-hidupku yang kelabu
dan kau yang menghiasi dengan warna-warna itu. Maukah kau menjadi teman hidupku?,
dengan kaget dan senang Dewi pun menjawab “Iyaa aku mau!”. Senang tak tekira
diriku dapat mempunyai pacar seperti Dewi yang sangat cantik. Hilang sudah
kekelabuan dalam hidupku ini.
Kece gan
BalasHapus